Pariwisata dan Pelestarian Adat Wae Rebo

SETELAH tahun 2012 meraih pengakuan sebagai Warisan Budaya Dunia dari UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB), kampung adat Wae Rebo di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, makin dikenal dan menarik perhatian wisatawan.
Kegiatan pariwisata di Wae Rebo berawal dari keinginan Martinus Anggo (44) melestarikan kebudayaan dan adat suku Manggarai di kampungnya yang terpencil. Keinginan melestarikan warisan budaya ini termasuk membangun kembali rumah adat tua yang hancur dimakan zaman.
”Tujuannya bukan untuk tontonan turis, melainkan agar kami memiliki kampung adat yang layak huni dan pantas menjadi tempat penyelenggaraan upacara adat untuk menghormati leluhur,” kata Martin, panggilan lelaki warga Wae Rebo ini.
”Waktu pulang ke Wae Rebo tahun 2003, saya melihat kampung tempat kelahiran saya nyaris hancur. Hati saya tergerak untuk memperbaiki,” ujar Martin yang sebelumnya menghabiskan banyak waktu belajar dan bekerja di perantauan, mulai dari Maumere, Labuan Bajo, hingga Filipina.
Pembangunan kembali rumah adat di Wae Rebo sebetulnya pernah dimulai. Beberapa tahun sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Manggarai mengucurkan dana untuk membangun kembali dua rumah gendang, rumah adat khusus tempat menyimpan benda pusaka, termasuk gendang dan gong yang biasa digunakan dalam upacara adat. Namun, usahanya itu belum cukup.
Himgga 2005, tiga dari tujuh rumah adat yang pernah ada di Wae Rebo hilang sama sekali. ”Dari empat yang masih berdiri, hanya dua yang layak pakai,” ujar alumnus Seminari St Petrus, Ritapiret, Maumere, yang melanjutkan studi filsafat di biara Katolik di Quezon City, Filipina, ini.
Pembangunan kembali Wae Rebo secara agak menyeluruh terlaksana pada 2009-2011. Ini dilakukan setelah Yori Antar, arsitek Jakarta yang peduli pada seni arsitektur tradisional Nusantara, datang ke desa adat yang secara administratif termasuk ke wilayah Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, ini.
”Dengan perantaraan Yori, masyarakat Wae Rebo mendapat dana dari Ibu Tirto Utomo, Laksamana Sukardi, dan Arifin Panigoro untuk membangun kembali rumah adat yang hancur,” kata ayah tiga anak perempuan ini.
Lanskap kampung
Meski jumlahnya relatif belum banyak, wisatawan mulai datang ke Wae Rebo sejak 1980-an. Daya tarik utamanya adalah bentuk sirkuler lanskap kampung dan arsitektur rumah adat Wae Rebo yang nyaris tak bisa ditemui di tempat lain di Kabupaten Manggarai ataupun Flores. Alam dan hutan di sekitarnya pun masih ”perawan”.
Menyadari potensi wisata kampungnya, Martin menjalankan peran sebagai ”duta pariwisata” Wae Rebo. Pesona alam dan keunikan budaya warga kampungnya itu ia ceritakan kepada pelaku bisnis pariwisata yang dianggapnya bisa membantu pengembangan pariwisata Wae Rebo.
Salah satu peristiwa penting adalah pertemuannya dengan Anita Verhoeven, pelaku bisnis pariwisata asal Belanda, pada 2006. ”Dia seorang pemimpin perjalanan wisata yang giat mempromosikan pariwisata Nusa Tenggara di negaranya,” kata Martin yang pernah bekerja di hotel di Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, dan pintu gerbang pariwisata Pulau Komodo dan daerah lain di Flores bagian barat.
Tertarik pada cerita Martin, tahun itu juga Verhoeven datang ke Wae Rebo dan mulai membawa rombongan turis Belanda. Tak berhenti di sini, Martin terus mempromosikan Wae Rebo.
Saat menjadi pembicara dalam lokakarya ekowisata Indonesian Ecotourism Network (Indecon) di Mataram, misalnya, Martin pun ”memasarkan” Wae Rebo sebagai tujuan wisata alam dan budaya. Indecon adalah lembaga nonpemerintah yang aktif mengembangkan pariwisata alam dan budaya di Indonesia.
Ia juga memberdayakan kerabatnya, warga Wae Rebo, antara lain, dengan mengadakan pelatihan bahasa Inggris agar mereka dapat berkomunikasi dengan wisatawan. ”Program ini kerja sama dengan Indecon yang mendatangkan guru bahasa Inggris ke Wae Rebo,” ujarnya.
Berkah tak terduga
Martin tak sendirian, ada pula Blasius Monta (47), kakak sepupunya. Blasius juga ikut merintis pemberdayaan masyarakat dan pengembangan pariwisata Wae Rebo.
”Sejak Pemerintah Kabupaten Manggarai memberikan bantuan untuk membangun kembali dua rumah gendang kami tahun 1997, saya yakin pariwisata Wae Rebo berkembang,” ujar Blasius.
Seperti diperkirakan bapak empat anak ini, jumlah wisatawan yang datang ke Wae Rebo terus meningkat. Setelah kunjungan pertama beberapa turis pada 1980-an, jumlah ini meningkat pada 1990-an dan bertambah lagi sejak awal 2000-an.
”Tahun 2002 saya berani mendirikan penginapan di sini,” ujar Blasius saat ditemui di rumah sekaligus penginapannya di Denge, kampung terakhir yang dapat dicapai kendaraan bermotor dalam perjalanan ke Wae Rebo.
Jadilah Blasius orang pertama di Desa Satar Lenda yang menyediakan fasilitas penginapan bagi pengunjung Wae Rebo. Awalnya empat kamar, Denge Waerebo Homestay, rumah penginapan milik Blasius itu, kini memiliki 11 kamar.
Dari Denge, Wae Rebo hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki mendaki bukit 3-4 jam lewat jalan setapak. Mereka yang datang dari Labuan Bajo biasanya tiba di Desa Satar Lenda pada petang hari dan perlu menginap sebelum melanjutkan perjalanan ke Wae Rebo esoknya.
Dua tahun lalu langkah Blasius diikuti Martin, yang mendirikan rumah penginapan dari kayu di Kampung Dintor, Satar Lenda, sekitar 6 kilometer sebelum Denge.
”Kami merasa fasilitas penginapan masih kurang, padahal tahun 2010 jumlah wisatawan mencapai lebih dari 300 orang,” kata Blasius yang juga guru SD Kristen Denge.
Bersama Martin dan sejumlah warga lain, tahun 2005 Blasius mendirikan Lembaga Pariwisata Wae Rebo (LPW) guna memberdayakan warga Wae Rebo di bidang pariwisata. Lewat LPW, dilaksanakan berbagai program pelatihan untuk meningkatkan kemampuan warga menerima wisatawan.
”Kami juga berbagi tugas di antara 50 keluarga warga Wae Rebo agar semua berperan dan mendapat tambahan penghasilan dari pariwisata,” katanya.
”Ada warga yang bertugas menjadi pemandu, pengangkut barang, juru masak, hingga penyedia fasilitas penginapan bagi para pelancong yang bermalam di Wae Rebo,” lanjutnya.
Namun, seperti mewakili segenap warga Wae Rebo, Blasius mengatakan, ”Pariwisata bukan segala-galanya. Tanpa turis, kami akan tetap hidup. Budaya masyarakat Wae Rebo pada dasarnya adalah budaya pertanian. Sebelum ada pariwisata, kami sudah biasa hidup dari hasil bumi. Berkembangnya kegiatan pariwisata tentu disyukuri. Itu berkah yang tak terduga

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More