Mengenal Pulau Komodo

Bagi Anda yang mau mengetahui dan ingin mengenal potensi wisata,agen wisata dan mau berwisata ke Pulau Komodo,ikuti terus perkembangan blog ini yang akan menginformasikan tentang Pulau Komodo.

Info Wisata Menarik

Info Jalan-jalan ke Pulau Komodo,labuan Tajo dan wilayah Nusa Tenggara lainnya akan kami sajikan informasinya disini,ikuti informasinya di web ini.

Ragam Budaya

Informasi Ragam Budaya dari berbagai daerah tersaji secara lengkap disini.Panduan Anda bagi Anda yang ingin mengenal keaneka ragaman budaya di Indonesia dan dunia Ada disini.

Galeri

Disini Anda akan mendapatkan berbagai koleksi foto,video dan berbagai macam kenangan perjalanan hidup sang penulis dan berbagai koleksi foto lain yang berhasil dikumpulkan tim redaksi ada disini.

Info Labuan Tajo

Disini informasi khusus bagi Anda warga Labuan Tajo,para pecinta dan yang mau berwisata ke Labuan Tajo yang ingin tahu dan lebih mengenal Labuan Tajo Yang sudah mendunia.

Kisah Siti Bocah Yatim Tangguh

Mata pencaharian utama bagi warga kampung cipendeuy Desa Cibereum, Cilangkahan, Banten adalah dari hasil dari pertanian, tentu saja hasil yang diperoleh bergantung musim bila tak banyak hama dan wabah yang mengganggu hasil panen , warga desa bisa bernafas lega . Itulah sebabnya tak semua warga bertahan dengan bertani , sebagian mencoba peuntungan lain dengan bekerja di kebun karet yang ada di sekitar desa ini. Bagi siti dan keluarga nya kehidupan tak memberi banyak pilihan, tak ada sawah atau kebun yang bisa digarap sebagai sumber penghasilan.
Siti adalah seorang bocah yatim yang ditinggal mati ayahnya sejak usia 2 tahun. Kini Siti berumur 7 tahun dan keseharian siti adalah sekolah dan berjualan bakso. Bagi bocah ini kehidupan sangat sederhana yang dijalani keluarganya bukan suatu beban yang berat pemandangan seperti ini pun sudah bukan sekali atau dua kali ia alami rasa lapar sepulang sekolah harus dia tahan sebisa mungkin. Ia tak akan berkeluh kesah , Siti tahu sang bunda sedang pergi bekerja sehingga tidak sempat meninggalkan makanan di rumah. Selain tak sempat bisa jadi memang tak ada lagi yang bisa dimasak di rumah ini. Bukan tanpa alasan bocah berusia 7 tahun ini harus bersusah payah ikutmencari rezeki di usianya yang masih sangat kecil yang tak berayah ini harus merasakan beban sang ibu, itulah sebabnya siti kemudian bisa menjadi seorang pedagang bakso.
Tentu saja bukan siti sendiri yang meracik dan meramu bakso yang akan dia jual. Bocah sekecil siti tentu belum mampu memasak layaknya orang dewasa. Siti hanya menjual tenaganya saja sebagai pedagang. Siti mengambil bakso dari tetangganya, termos dan ember inipun telah disediakan oleh tetangganya. Termos yang dibawa siti cukup berat karena diisi penuh dengan bakso siti harus bisa menjual seluruh bakso ini bila ingin mendapat upah yang banyak. Siti harus berjalan jauh untuk menjual dagangannya. Beban yang berat kadang membuat tangannya sakit.
Siti pun tak bisa mengharap rezeki yang banyak dari menjual bakso. Ember ini tak boleh ketinggalan karena setiap mangkuk kotor harus dicuci kembali untuk melayani pembeli berikutnya. Agar bakso dagangannya ini laku tentu siti harus rajin menawarkan bakso dagangannya kepada setiap orang , namun kadang usahanya tak selalu berhasil tak semua orang sedang membutuhkan bakso dagangannya. Menjadi pedagang bakso tentu bukanlah imipan siti namun siti rela menjualankan pekerjaan nya ini ia ingin sekali membantu sang ibu memenuhi kebutuhan makanan di rumahnya.
Bagi siti tantangan terberat adalah menjual bakso kepada teman-temannya. Bukannya bermain bersama menikmati masa kecil , siti terus bekerja dan bekerja. Kenyataan hidupnya ia terima dengan lapang dada. Tidak hanya itu, keseharian siti menjadi oenjual bakso pun sering menjadi olok-olokan di sekolah. Siti tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus bersabar dan tetap menjual bakso di kampungnya. Kerja kerasnya hari ini menghasilkan uang sebesar 16 ribu rupiah. Uang ini tentunya bukan milik siti. Siti harus menyetor kepada pemilik bakso. Siti hanya mendapat upah dari usahanya menjual bakso. Hanya uang 2000 rupiah yang ia dapat. Siti bersyukur setidaknya masih ada sedikit rupiah untuk membantu sang ibu daripada ia hanya bermain-main tanpa menghasilkan apapun.
Banyak yang tergerak untuk membantu Siti bocah penjual bakso baik melalui komunitas kaskus, kompasiana maupun bantuan dari Trans7. Diharapkan orang pinggiran seperti Siti dapat tertolong dengan bantuan teknologi informasi dari para dermawan di kota besar.
Itulah Kisah nyata dari hidup seorang bocah yang bernama siti dan berusia 7 tahun yang menggugah hati karena kerja keras dan semangat siti dalam menjalani kehidupan yang keras ini.


Agung Prana, Poles Wisata Pemuteran

Keindahan candi ternyata tidak hanya ditemukan di darat tapi juga dibawah laut. Disekitar candi tumbuh terumbuh karang dan ikan ikan kecil berenang di setiap sisi candi seolah sedang menari menyambut para penyelam yang menkmati keindahan bawah laut. Selain candi ada juga tugu terumbu karang, sepeda dan berbagai bentuk simbol kekayaan budaya Bali. Pemandangan bawah laut yang berbeda ini hanya bisa ditemukan di taman laut desa Pemuteran, kabupaten Buleleng, Bali


Keindahan taman laut desa pemuteran sebelumnya hancur berantakan. Nyaris tak satupun terumbu karang yang hidup. Kondisi ini disebabkan selama berpuluh tahun penduduk setempat yang mayoritas nelayan acapkali mengunakan bahan peledak. I Gusti Agung Prana seorang pemandu wisata memoles taman laut desa ini menjadi lebih indah. Taman laut yang sebelumnya hancur lebur kini berubah menjadi surga bawah laut dan menarik perhatian dunia.

Usaha gila agung dalam mengembangkan Desa Pemuteran bermula saat  ia memutuskan untuk membangun sebuah penginapan kecil untuk wisatawan lebih dari 20 tahun lalu. Saat itu pariwisata Bali belum semarak seperti saat ini. “Tak seorang pun yang mau datang ke tempat terpencil di Utara ini, jauh dari gemerlapnya dunia pariwisata Bali di Kuta, Sanur dan Ubud” kisah Agung. Namun, Agung mengaku aksi nekat itu dipicu oleh adanya semacam panggilan spiritual untuk mengelola wilayah Pemuteran.

Awalnya tidak mudah bagi Agung untuk dapat diterima oleh penduduk Desa Pemuteran. Mayoritas penduduk Pemuteran saat itu berprofesi sebagai nelayan dan menangkap ikan dengan mengunakan bahan-bahan peledak yang merusak ekosistem terumbu karang. Padahal wilayah Teluk Pemuteran sebetulnya memiliki ekosistem terumbu karang perairan dangkal terluas di seluruh Bali. Minimnya pengetahuan penduduk pemuteran mengakibatkan ekosistem terumbu karang hancur lebur, tangkapan ikan terus menurun dan masyarakat desa Pemuteran di masa itu hidupnya dililit kemiskinan.

Dengan pendekatan berbasis budaya dan komunitas berlahan Agung mulai diterima oleh penduduk Pemuteran. Agung mendirikan Yayasan dan berlahan  melakukan edukasi kepada penduduk desa untuk mengubah teknik penangkapan ikan yang mereka lakukan agar tak lagi merusak ekosistem bawah laut. Sosok Agung kemudian menjadi disegani di desa Pemuteran

Rehabilitasi terumbu karang dengan Bio Rock

Yayasan Karang Lestari yang didirikan Agung ini bertujuan melestarikan dan merehabilitasi terumbu karang yang terlanjur rusak. Ide dan usaha Agung ini rupanya juga menarik minat dua orang peneliti kelautan. Thomas J. Goreau asal AS dan Wolf Hibertz asal Jerman dari Global Coral Reef Alliance tertarik membantu Agung merehabilitasi ekosistem teluk. Adalah Yos Amerta, Ketua Gabungan Pengusaha Wisata Bahari (Gahawisri) Bali yang mempertemukan kedua pihak tersebut untuk bekerjasama.

Selanjutnya, mereka mulai melakukan rehabilitasi terumbu karang dengan teknik baru bernama Bio Rock. Teknik ini merangsang dan mempercepat terumbu karang yang masih bayi dengan cara mengalirkan listrik bertegangan rendah pada kerangka rumpon yang diletakkan di dasar laut. Tom dan Wolf, demikian kedua peneliti itu akrab disapa, membuat percobaan dengan menenggelamkan rumpon ke dasar laut sedalam 12 meter. Lalu, ribuan bibit terumbu karang diikatkan pada rumpon menggunakan kawat dan rumpon dialiri listrik berkekuatan rendah, 12 hingga 20 volt.

Aliran listrik yang mengalir ke seluruh permukaan rumpon berfungsi sebagai stimulus bagi berkumpulnya kalsium karbonat dan air laut yang mengandung magnesium hydroxide pada rumpon besi. Secara perlahan, terbentuklah pondasi terumbu karang berupa kerak putih yang berpadu dengan bibit terumbu karang yang diikat tadi.

Hasil percobaan ini sungguh mencengangkan. Dalam sebulan, pondasi terumbu sudah terbentuk. Bibit terumbu karang yang dicangkokkan juga mulai memperlihatkan pertumbuhan karang baru. Dengan adanya aliran listrik, pertumbuhan terumbu karang terbukti mampu dipercepat hingga enam kali dibandingkan jika terumbu dibiarkan tumbuh secara alami.

Teknik yang disebut juga sebagai elektrolisa akresi mineral ini menurut Agung sudah pernah diterapkan di beberapa tempat di luar negeri seperti Thailand, Maladewa dan Amerika Serikat. Namun, Agung mengatakan hasil pertumbuhannya tak sebagus di Pemuteran. “Hal ini disebabkan warga lokal di tempat lain tidak turut berpartisipasi melakukan rehabilitasi tersebut,” Agung menyimpulkan.

Keberhasilan ini membawa Desa Pemuteran memperoleh penghargaan The Equator Prize dan UNDP Special award dari United Nations Development Programme. Desa Pemuteran berhasil menjadi salah satu dari 10 penerima penghargaan yang menyisihkan 812 nominasi dari 113 negara. Sebuah prestasi yang layak dibanggakan. Di negeri sendiri, Desa Pemuteran pernah menjadi penerima penghargaan lingkungan Kalpataru tahun 2005 silam. Usaha dan keyakinan Agung selama puluhan tahun akhirnya berbuah hasil. Kini Desa Pemuteran menjadi ikon pembangunan pariwisata berkelanjutan yang patut ditiru tak hanya di Bali, tapi juga di Indonesia

“Apa yang kami dapatkan saat ini melalui proses panjang dan tidak mudah. Saya tak hanya berhadapan dengan kondisi teluk yang rusak parah, tetapi juga berupaya mendidik masyarakat desa agar sadar lingkungan dan pada akhirnya memecahkan persoalan kemiskinan,” tutur Agung sebagaimana dikutip koran local bali

Upaya Agung itu tentu tak mungkin terjadi tanpa dukungan masyarakat serta segenap perangkat Desa Pemuteran. Untuk mengawasi dan menjaga kondisi terumbu karang di perairan Teluk Pemuteran, saat ini Desa Pemuteran membentuk Pecalang Segara atau Pengawas laut yang anggotanya tak lain adalah masyarakat setempat. Dalam mengelola penginapan dan pariwisata, Desa Pemuteran juga sepenuhnya melibatkan masyarakat setempat. Sebagian besar karyawan yang bekerja di resor milik Agung adalah penduduk Desa Pemuteran. Beberapa dari mereka dibiayai Agung bersekolah pariwisata dan ilmunya dibagi-bagi sepulang mereka menyelesaikan studi.

Harmonisasi antara alam dan manusia yang menjadi bagian dari alam membuat Desa Pemuteran menjadi ikon pembangunan pariwisata berkelanjutan yang patut ditiru. Apa yang kita ambil dari alam harus kita kembalikan lagi ke alam agar terus dapat diambil manfaatnya. Seperti nama Desa Pemuteran sendiri yang mempunyai makna kembali.


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More