Mengenal Pulau Komodo

Bagi Anda yang mau mengetahui dan ingin mengenal potensi wisata,agen wisata dan mau berwisata ke Pulau Komodo,ikuti terus perkembangan blog ini yang akan menginformasikan tentang Pulau Komodo.

Info Wisata Menarik

Info Jalan-jalan ke Pulau Komodo,labuan Tajo dan wilayah Nusa Tenggara lainnya akan kami sajikan informasinya disini,ikuti informasinya di web ini.

Ragam Budaya

Informasi Ragam Budaya dari berbagai daerah tersaji secara lengkap disini.Panduan Anda bagi Anda yang ingin mengenal keaneka ragaman budaya di Indonesia dan dunia Ada disini.

Galeri

Disini Anda akan mendapatkan berbagai koleksi foto,video dan berbagai macam kenangan perjalanan hidup sang penulis dan berbagai koleksi foto lain yang berhasil dikumpulkan tim redaksi ada disini.

Info Labuan Tajo

Disini informasi khusus bagi Anda warga Labuan Tajo,para pecinta dan yang mau berwisata ke Labuan Tajo yang ingin tahu dan lebih mengenal Labuan Tajo Yang sudah mendunia.

Wilfrida Soik Berpeluang Bebas dari Hukuman Mati



Wilfrida Soik (22), tenaga kerja Indonesia asal Belu, Nusa Tenggara Timur, bisa lolos dari hukuman mati di Malaysia jika usianya terbukti di bawah 18 tahun saat terjadi peristiwa yang didakwakan. Pemeriksaan tulang dan uji psikologis harus segera dilakukan.

Dalam sidang Senin siang, pengadilan ditunda hingga Minggu 17 oktober 2013 agar dilakukan lebih dulu pemeriksaan tulang tangan Wilfrida di rumah sakit Universitas Sains Malaysia dan uji psikologis oleh ahli yang disepakati bersama antara jaksa dan tim pembela Wilfrida. Sebelumnya, Wilfrifa didakwa membunuh orangtua majikannya, Yeap Seok Pen (60).

Untuk membuktikan usia Wilfrida masih di bawah umur, keluarga sudah membawa saksi dari Komite Justice and Peace Keuskupan Atambua, Pastor Gregorius, yang membawa surat baptis dan catatan kelahiran Wilfrida. Namun, karena sidang ditunda, Pastor Gregorius tak jadi bersaksi.

1.000 lilin

Menyikapi persidangan, masyarakat NTT lewat gerakan 1.000 lilin mendoakan Wilfrida agar bebas dari hukuman mati. Dosen Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, Urbanus Hurek, mengatakan, gerakan 1.000 lilin serentak di Kota Kupang dan Atambua yang melibatkan 5.000 warga.

Sementara itu, di Jakarta Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono menepis tudingan pemerintah tidak peduli kepada Wilfrida. ”Siapa bilang tidak peduli? Kedutaan RI sangat peduli meskipun ada batas-batasnya,” katanya sebagaimana ditulis kompas.

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia/Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Tatang Budi Razak menambahkan, pemerintah mendatangkan saksi meringankan untuk Wilfrida

”Kompas” Datang, Air Mengucur…

Kulit wajah Yohanes Magor sudah mengeriput seiring usianya yang kini 80-an tahun. Di kampungnya, ia adalah tetua paling lama mengalami deraan penderitaan panjang akibat kesulitan air bersih. Namun, ia pun beruntung karena masih sempat menyaksikan berakhirnya penderitaan itu, setidaknya sejak April lalu.
Yohanes Magor adalah warga Kampung Tuwa—satu dari empat anak kampung—di Desa Goloronggot, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Perkampungan Tuwa sendiri tumbuh di tepi jalan beraspal mulus, bagian dari Lintas Flores. Jaraknya sekitar 60 kilometer arah timur dari Labuan Bajo, kota Kabupaten Manggarai Barat. Meski demikian, kampung yang kini berpenduduk 177 keluarga atau sekitar 700 jiwa itu sebelumnya tak pernah lekang dari krisis air bersih.
Pada musim hujan, sumber air bersih warga memang agak dekat, sekitar 1 km sebelah timur ujung kampung, di Waerubeng. Airnya hanya mengalir selama hujan turun. Kalau sampai sebulan saja hujan berlalu, yang tersisa hanya genangan di beberapa titik alurnya. Ketika kondisi seperti itu, Waerubeng praktis tidak lagi diandalkan untuk kebutuhan memasak dan minum bahkan mandi dan cuci, karena air genangannya tak lagi bening, tetapi berubah keruh.
Sebaliknya, memasuki kemarau, upaya memenuhi kebutuhan air warganya beralih ke Sungai Waelongge. Posisinya sekitar 2-3 km dari Tuwa. Perjalanan pulang pergi membutuhkan waktu 3-4 jam karena harus menyusuri jalan tikus, menerobos semak, yang sebagian melalui tanjakan tajam. Dengan demikian, upaya mendapatkan air telah menyita sebagian waktu kerja yang seharusnya dimanfaatkan untuk menggarap ladang, mengolah sawah, beternak, atau kegiatan produktif lainnya.
Kini, krisis air bersih yang sejak lama mendera warga Tuwa telah menjadi kisah masa lalu. Mereka telah menikmati air bersih setidaknya sejak April lalu. Penderitaan klasik itu akhirnya berujung juga menyusul rampungnya pembangunan sarana air bersih bantuan dana pembaca Kompas melalui Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) dan bantuan Bank Mandiri.
Tombo dia keta e..ite, senang kami gacai Kompas po manga waeNgaji kaut’n ami sangge’n ro’eng Tuwa latang gauk di’a de Kompas dite,” begitu ungkapan spontanitas tetua Yohanes Magor dalam percakapan dengan tim DKK pimpinan Muhammad Nasir di Tuwa, pertengahan Agustus lalu. Ungkapan dalam bahasa setempat itu terjemahan bebasnya lebih kurang demikian. ”Terima kasih secara tulus dan mendalam, kami sudah senang, Kompas datang baru air mengucur. Kami segenap warga Tuwa hanya bisa membalasnya dengan doa atas bantuan kemanusiaan Kompas.”
Sejatinya, ungkapan yang disampaikan ayah empat anak dan 12 cucu itu tidak hanya mewakili kelegaan warga Tuwa. Tentu saja sekaligus mewakili kelegaan Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dulla. Alasan utamanya, Tuwa termasuk kampung dengan kesulitan air bersih paling parah di Manggarai Barat. Karena kondisi itulah hingga sang bupati—sebagaimana diakuinya ketika di Tuwa, September 2011—sampai enggan mengunjungi warga kampung itu sejak ia menjadi wakil bupati hingga berlanjut menjadi bupati sejak Agustus 2010.
Apa pasal? Agustinus Dulla mengakui, setidaknya ada dua alasan yang membuat dirinya enggan mengunjungi Goloronggot, terutama Tuwa. Pertama, dirinya tidak sampai hati menyaksikan warganya itu terus berkutat dalam derita kesulitan air bersih. Kedua, sudah dua atau tiga kali pemerintah berupaya mengatasi kesulitan air bersih bagi warga Tuwa, tetapi semuanya tak kunjung membuahkan hasil.
”Keengganan saya mengunjungi Tuwa bukan karena tidak peduli terhadap penderitaan warga. Yang terjadi justru sebaliknya. Saya tidak sampai hati menyaksikan mereka terus menjerit kesulitan air bersih. Tuwa memang sejak lama termasuk kampung dengan kesulitan air bersih paling parah di Manggarai Barat,” tuturnya.
Kini, sang bupati tentu saja menjadi enteng berkunjung ke Tuwa setelah DKK bersama mitranya, Bank Mandiri, berhasil mengatasi krisis air bersih.
Empat titik
Setelah melalui proses penelitian secara detail dan mendalam, DKK memutuskan bantuan sarana air bersih bagi masyarakat pedesaan di Flores. Didukung Bank Mandiri, bantuan DKK dengan total Rp 7,5 miliar itu tersalur melalui empat titik. Selain bagi warga Tuwa, juga bagi Dusun Lada di Desa Pong Ruan, Kabupaten Manggarai Timur; Desa Ria di Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada; serta Desa Teka Iku dan sekitarnya di Kabupaten Sikka.
Khusus di Tuwa, bangunan mengalirkan air dari sumur tandem di Waerubeng. Air di tampungan dialirkan hingga bak elevasi di bagian hilirnya. Menggunakan pompa hirdam berteknologi ”air tolak air”, air selanjutnya dilontarkan hingga kampung melalui jaringan pipa. Pengaliran air dengan teknologi serupa digunakan di Desa Ria (Ngada), yang mengalirkan dan melontarkan air dari Sungai Alolain di sisi selatan kampung.
Sementara itu, sarana air bersih bagi warga Dusun Lada (Manggarai Timur) bersumber dari hasil pengeboran pada dinding tebing di hulu kampung. Selanjutnya, air dialirkan secara gravitasi melalui jaringan pipa hingga perkampungan.
Masih ada satu titik lainnya, yakni bantuan sarana air bersih bagi warga Desa Teka Iku dan sekitarnya di Kecamatan Kangae (Sikka). Paket bantuan bagi warga terakhir ini tersalur berupa dua unit mobil tangki karena tak ada sumber air di sekitarnya.
Pembangunan sarana air bersih bagi warga pedesaan di Flores tersebut ditandai dengan peletakan batu pertamanya pada akhir Mei 2012. Khusus di tiga titik pertama, pembangunannya menunggu waktu serah terima yang sedianya akan berlangsung akhir September ini.
Sementara bantuan berupa dua mobil tangki air bagi warga Teka Iku dan sekitarnya di Sikka secara resmi sudah diserahkan oleh Wakil Pemimpin Umum Kompas St Sularto kepada Direktur CV Pembangunan St Yosef Keuskupan Maumere Rm Arkadius Dhosando Pr di Maumere, Minggu (25/11/2012), disaksikan Uskup Maumare Mgr Gerulfus Kherubim Pareira.
Seperti di Tuwa, debit air bagi warga di Dusun Lada sedikit menyusut memasuki puncak kemarau sejak pekan kedua Agustus lalu. Namun, kondisi itu tak sedikit pun menyurutkan rasa terima kasih warga atas kehadiran sarana air bersih bagi mereka.
”Kami sangat berterima kasih karena Kompas sudah membebaskan kami dari penderitaan kesulitan air minum sejak turun-temurun. Kalau debit air terus berkurang, tidak masalah. Yang terpenting tetap cukup untuk kebutuhan minum dan memasak di rumah. Sedangkan untuk mandi dan cuci, bisa kembali ke sungai,” kata Sius Mbaur (52), salah satu tetua di Dusun Lada, Desa Pong Ruan.
Tokoh masyarakat Desa Ria (Ngada), Paulus Pantar (66), menyebutkan, sarana air bersih yang kini dinikmati masyarakat setempat adalah wujud bantuan dari sebuah lembaga beserta orangnya yang sungguh berhati lurus. ”Perkampungan kami lokasinya sangat jauh dan terpencil, apalagi dari Jakarta. Kompas melalui tim DKK justru telah menunjukkan kepeduliannya hingga warga kami akhirnya menimba air melalui keran di sekitar rumah. Ini rahmat, yang sejak lama tidak terbayangkan,” tutur pensiunan PNS guru sekolah dasar di desa itu.
Yohanes Magor, Sius Mbaur, atau Paulus Pantar sama-sama mengakui, warga di setiap kampung mereka sebenarnya sudah sejak lama berupaya mengatasi kesulitan air bersih. Namun, usaha demi usaha selalu gagal, dan baru membuahkan hasil setelah DKK dan Bank Mandiri mengulurkan tangannya. (FRANS SARONG)

The New York Times Sorot Blusukan Jokowi


Jokowi kembali membuat media terkemuka The New York Times mengirim jurnalis dan menuliskan kiprahnya. Kali ini, soal kebiasaan blusukan. Aktivitas Gubernur DKI Jakarta bernama lengkap Joko Widodo ini disebut tak pernah dilakukan oleh elite politik sebelumnya.

Seperti dibeberkan New York Times, Rabu 25 September, Jokowi tak sungkan menyambangi warganya. Tak pernah risih dikerumuni. Ia pun tak merasa jijik berkelana memasuki kawasan kumuh, pasar tradisional, dan lingkungan lain.

Begitu pula saat wanita dan pria di jalanan mencoba untuk menyentuhnya. Ia selalu terbuka saat anak-anak muda mencium tangannya sebagai ungkapan rasa rasa hormat.

Jokowi menyambangi warganya untuk mengetahui apakah programnya berjalan atau tidak.

Dengan rendah hati, kata Jokowi, orang-orang yang ia temui sebenarnya tidak begitu bersemangat melihat kedatangannya. "Mereka hanya terkejut melihat pemimpin Indonesia keluar dari kantornya," ujar Jokowi seperti dikutip New York Times.

"Orang-orang mengatakan 'demokrasi jalanan' karena saya mendatangi mereka. Aku menjelaskan program. Mereka juga bisa menyampaikan ide," kata Jokowi.

Gubernur berperawakan kurus itu juga rajin turun ke jajaran di bawahnya membenahi para birokrat yang terkenal tidak efisien.

Dalam artikel sepanjang 18 paragraf juga disinggung sejumlah prestasi Jokowi. Misalnya, memindahkan PKL dari jalan-jalan sekitar Tanah Abang, pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara, yang menyebabkan kemacetan lalu lintas. Lalu, memberi mereka tempat di Blok G.

New York Times mencatat, pamor politik Jokowi kian mencorong dalam berbagai survei calon presiden. Jokowi selalu berada di peringkat teratas, dengan Prabowo Subianto berada di urutan kedua tapi dengan selisih hampir 2 kali lipat.

Ini bukan kali pertama New York Times menulis soal Jokowi. Saat Jokowi mencalonkan diri sebagai gubernur DKI Jakarta, New York Times menurunkan artikel berjudul "Outsider Breathing New Ideas Into Jakarta Election" pada September 2012.

Media itu menulis, "Di negara dengan politisi sering kali berasal dari elite yang terkait atau memiliki hubungan dengan mendiang Presiden Soeharto dan militer, Joko, dikenal dengan julukan Jokowi, muncul mewakili generasi baru politisi."

http://www.nytimes.com/2013/09/26/world/asia/in-indonesia-a-governor-at-home-on-the-streets.html?hp

Perjalanan perizinan Gereja St. Bernadette, Tangerang


Berusaha patuh pada pemerintah, Paroki St. Bernadette memindah ibadahnya dari Sekolah Sang Timur di Karangtengah, Ciledug, Tangerang (2004) karena ditolak  kelompok intoleran. Mereka mendapat izin mendirikan bangunan di Bintaro, tetapi hari Mingggu massa mengatasnamakan warga, menyegel Gereja Katolik Paroki St. Bernadette.  ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) melalui Koordinator Bidang Informasi, Komunikasi, dan Penelitian, Ahmad Nurcholish mengatakan, “Mempercayai pemerintah sia-sia. Mereka tunduk pada mayoritas, bukan tunduk pada hukum.”
Sejarah berdirinya Paroki St. Bernadette
Paroki St. Bernadette adalah gereja Katolik di bawah dekenat Tangerang, Keuskupan Agung Jakarta.  Paroki ini didirikan pada 11 Februari 1990 dengan ditandai pembentukan Pengurus Gereja dan Dana Papa (PGDP) Roma Katolik Paroki Santa Bernadette, Ciledug oleh Uskup Agung Jakarta, Leo Sukoto SJ (Alm).
Karena tidak memiliki tempat ibadah permanen, kebaktian Minggu dan kegiatan keagamaan di hari raya kristiani secara  bergantian dilaksanakan berpindah-pindah. Misalnya: bekas bedeng kompleks perumahan Ciledug Indah, bekas gudang padi di kompleks Asrama Polri Ciledug, dan Gudang Arsip Kompleks Keuangan Karang Tengah Ciledug.
Dua tahun kemudian, pengurus gereja mengajukan permohonan kepada Bupati Tangerang (20/7/92) untuk memanfaatkan Bangunan Sementara Sekolah (BSS) Sang Timur di Kompleks Barata/Keuangan Karang Tengah, Ciledug sebagai tempat menjalankan ibadah.
PGDP mendapatkan rekomendasi melaksanakan kegiatan keagamaan umat Katolik Kepala Desa Karang Tengah melalui Surat No. 192/Pem/VII/1992, tanggal 21 Juli 1992, dengan tembusan disampaikan kepada Bupati Tangerang, Walikota Tangerang, Musyawarah Pimpinan Kecamatan Ciledug, Ketua RW dan Ketua RT sekompleks Barata Karang Tengah.
Sejak itu kegiatan peribadatan berlangsung dan terkonsentrasi di BSS Sang Timur dengan aman, dan tenteram untuk seluruh umat Katolik Paroki Santa Bernadette Ciledug (8.975 jiwa) yang berasal dari enam kecamatan (Karang Tengah, Ciledug, Larangan, Cipondoh, Pondok Aren dan sebagian Serpong).
Penolakan tiba-tiba
Setelah 12 tahun berjalan, tanpa ada pembicaraan atau berita sebelumnya, Sekolah Sang Timur memperoleh surat nomor:  Kd.258.5/BA.00/248/2004 dari Kepala Departemen Agama Kantor Kota Tangerang, 29 Juli 2004, meminta menghentikan kegiatan keagamaan dengan menggunakan gedung sekolah.
Sebulan kemudian, tiba-tiba Ketua Pengurus Gereja dan Dana Papa (PGDP) Paroki St. Bernadette Karang Tengah memperoleh surat dari Lurah Karang Tengah, no. 642/71-KRT/04, tanggal 30 Agustus 2004, perihal Pencabutan Rekomendasi Surat Lurah  Karang Tengah  No. 192/Pem/VUU/92.
Setelah pencabutan surat rekomendasi, beberapa kali ibadah diganggu dengan demonstrasi dan orasi oleh sekelompok warga yang menamakan dirinya Forum Komunikasi Umat Islam Karang Tengah yang menginginkan dihentikannya kegiatan keagamaan di BSS Sang Timur Karang Tengah Ciledug. Puncaknya pada Minggu, 3 Oktober 2004, massa yang menyebut masyarakat sekitar melakukan demonstrasi dan meminta tempat tersebut tidak lagi digunakan untuk ibadah. Mereka bahkan membangun tembok di pintu gerbang menuju sekolah itu, dan memblokir akses ke sekolah. Mereka juga mengusir umat yang sedang beribadah.
Walau keberadaan Paroki St. Bernadette dibela Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama waktu itu, Abdurrahman Wahid, dan pegiat perlindungan anak, Seto Mulyadi, tidak menyurutkan kelompok intoleran ngotot peribadatan dihentikan.

Kompromi, mendapat IMB, tetapi tetap ditolak di Bintaro

Jemaat Paroki St. Bernadette berkompromi. Dalam pertemuan dengan tim dari kementerian agama pada 29 Oktober 2004, disepakati jemaat Paroki St. Bernadette mencari lahan baru.  Dalam pernyataannya, Menteri Agama waktu itu, Muhammad M. Basyuni menegaskan persoalan kasus warga perumahan Karang Tengah Ciledug, Tangerang Banten dengan Yayasan Pendidikan Karya (YPK) Sang Timur telah selesai dan tuntas. Murid-murid di sana sudah dapat belajar kembali. “Ini bukan persoalan agama. Jadi itu hanya masalah kesalahpahaman.”
Jemaat Paroki St. Bernadette pun nomaden. Jemaat paroki ini kemudian menggelar misa dengan menumpang di sejumlah tempat. Mereka paling sering beribadah di Gereja Maria Kusuma Karmel, Gedung Lokagenta di Perumahan Ciledug Indah I, Balai Pertemuan RW di Metro Permata I, dan Pondok Lestari.
Tempat-tempat itu dipilih karena lokasinya dekat dengan gereja sebelumnya. Akhirnya, paroki menemukan lokasi di Kelurahan Sudimara Pinang dan memutuskan membangun gereja di sana. Menurut Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Romo Benny Susetyo, mengatakan, paroki tersebut memperoleh izin mendirikan bangunan (IMB)  pada 11 September 2013. “Warga telah menyetujui pembangunan tersebut,” kata Romo Benny. Namun, kemarin, upaya mereka kembali ditolak warga sekitar.
Ratusan orang menggelar unjuk rasa menolak pembangunan Gereja Katolik Santa Bernadette di Bintaro, Kelurahan Sudimara Pinang, Kota Tangerang, kemarin. Selain berunjuk rasa, mereka menghentikan kegiatan ibadah yang sedang berlangsung dengan menggembok gerbang masuk gereja.
Pernyataan dari ICRP
Ahmad Nurcholish, Koordinator Bidang Informasi, Komunikasi, dan Penelitian ICRP mengungkapkan kepada satuharapan.com, “Pemerintah tidak dapat diandalkan untuk mengatasi permasalahan intoleransi karena mereka terdiri dari para politikus yang memiliki banyak kepentingan.” Jika pemerintah diisi para negarawan, mereka akan berusaha menegakkan hukum, kata Nurcholish. “Namun, kenyataannya mereka tunduk kepada kelompok yang mengatasnamakan diri mayoritas,” katanya.

Partai Islam dan Demokrasi


Kiamat Sudah Dekat! Judul tayangan serial televisi yang kerap muncul itu agaknya tepat memberikan ilustrasi atas kondisi partai-partai dakwah di negeri ini. Gambaran itu juga bisa menjadi ilustrasi hendak kiamatnya partai Islam di Indonesia pada Pemilu 2014 secara keseluruhan.
Berdasarkan penelitian Lingkaran Survei Indonesia 2012, partai Islam hanya akan menjadi komplementer alias pelengkap pada pemilu mendatang. Beberapa faktor yang menyebabkan merosotnya perolehan suara partai Islam antara lain menguatnya fenomena ”Islam Yes, Partai Islam No”, pendanaan partai politik, tindakan kekerasan organisasi massa Islam, dan kemampuan partai nasionalis mengako- modasi kepentingan umat Islam. Hal lain adalah perilaku politisi partai dakwah yang kacau-balau.
Dalam konteks demokrasi di Indonesia, agaknya ini bisa kita jadikan pelajaran berharga tentang kehadiran partai Islam atau gerakan Islam politik yang setiap lima tahun turut serta dalam pemilu, tetapi tak pernah memberi warna secara signifikan. Dalam kaitan itu, sepertinya slogan ”Islam Yes, Partai Islam No” cukup relevan jika dikaitkan dengan perolehan suara partai Islam.
Suara merosot
Pemilu 2014 memang akan digelar pada April mendatang, tetapi mendiskusikan secara serius tentang kehadiran partai Islam sebagai gerakan Islam politik perlu dilakukan sejak sekarang karena beberapa kecenderungan yang terus bergulir. Beberapa penyebab menurunnya suara partai Islam merupakan isu lama, seperti skandal korupsi, politik uang, dan politik transaksi yang akan terus membuat kebangkrutan partai Islam dalam setiap pemilu.
Sebagai contoh, sebut saja pada Pemilu 2009, PKS diprediksi akan memperoleh suara 22 persen. Ternyata hanya 8,7 persen, naik satu angka dari Pemilu 2004. Bahkan, partai Islam seperti PPP dan PBB benar-benar hancur dalam Pemilu 2009.
Hal itu memberikan bukti lain bahwa wibawa dan kepercayaan umat Islam kepada partai Islam semakin hari, dari pemilu ke pemilu, semakin hilang dengan kinerja dan perilaku partai berlabelkan Islam. Umat Islam tampaknya semakin cerdas dan tidak bisa lagi dikibuli oleh para petinggi partai Islam yang menggunakan simbol dan label Islam saat kampanye pemilu, tetapi setelah pemilu selesai, perilakunya tidak berbeda dengan partai tidak bersimbol dan berlabel Islam.
Oleh sebab itu, jika pada Pemilu 2014 benar-benar terjadi partai Islam hanya memperoleh suara di bawah 5 persen, gagasan almarhum Nurcholish Madjid tentang ”Islam Yes, Partai Islam No” telah mulai dipahami dan diinternalisasi oleh umat Islam. Umat Islam tidak lagi silau dengan slogan, simbol, ataupun janji-janji. Umat Islam Indonesia telah berulang kali mengalami pemilu dan saban pemilu masalah selalu berulang.
Oleh sebab itu, umat Islam akan benar-benar selektif dalam menentukan pilihannya, bukan berdasarkan simbol dan slogan.
NU dan Muhammadiyah
Memperhatikan semakin cerdasnya umat Islam di Indonesia, karena berbagai aktivitas organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) yang ”pernah terpeleset” dalam kubangan pemilu, maka para petinggi partai Islam sebenarnya dapat menggunakan hasil temuan-temuan lembaga survei seperti Lingkaran Survei Indonesia, Lembaga Survei Indonesia, atau Soegeng Soerjadi Syndicate.
Lembaga-lembaga itu menempatkan partai Islam—diprediksi—akan terpuruk sebagai pelajaran berharga sebab selama ini partai Islam demikian percaya diri dalam prediksi perolehan suara pada pemilu pasca-Orde Baru, padahal nyatanya hasil pemilu berkata lain.
Keberhasilan dakwah kultural Muhammadiyah dan NU dari kota sampai ke pelosok desa akan semakin tegas ketika pada periode belakangan perilaku partai Islam tidak berbeda dengan perilaku partai bukan Islam. Elite dan kader partai bukan Islam banyak terlibat korupsi.
Hal sama ternyata terjadi pada partai Islam. Sebagian elite dan kadernya terlibat korupsi secara berjemaah. Ini tentu saja tidak akan menutup mata umat Islam yang akan dijadikan sasaran alias obyek pada Pemilu 2014 mendatang oleh partai Islam semacam PKB, PAN, PPP, PBB, PKS, dan partai Islam lain jika nanti mengikuti Pemilu 2014.
Pertarungan di antara sesama partai Islam pun semakin keras memperebutkan pemilih Muslim dari Muhammadiyah, NU, dan Syarikat Islam serta kelompok Islam kecil-kecil semacam Persis, jemaah pengajian yang bertebaran di seantero Nusantara. Padahal, sebagian jemaah pengajian merupakan buatan partai politik bukan Islam, seperti Partai Golkar dan Partai Demokrat.
Secara khusus perhatian kita pada partai yang menyebut dirinya sebagai partai dakwah, ternyata yang dipertontonkan pada publik adalah keculasan, kerakusan, dan kesombongan belaka; bukan kesantunan, rendah hati, dan pemaaf. Beberapa kasus skandal yang belakangan terjadi dan menimpa partai Islam akan semakin memperburuk wajah partai Islam itu sendiri. Skandal elite-elite partai Islam dengan perempuan-perempuan di sekelilingnya akan semakin membuat kiamatnya partai dakwah tersebut.
Hadirnya elite politik partai dakwah yang terkena berbagai kasus seperti korupsi, tindakan asusila, serta tindakan kriminal lainnya akan semakin menggiring ke arah kematian partai dakwah. Partai yang mengklaim bersih, suci, bagaikan malaikat ternyata benar-benar bukan partainya para malaikat yang tanpa nafsu syahwat dan serakah. Partai apa pun namanya tetaplah partai para politisi yang memiliki hasrat Rahwana dengan pelbagai nafsu serakahnya.
Di situlah, agaknya, suara Partai Islam pada Pemilu 2014 memang akan semakin merosot tajam. Nasib partai Islam pendek kata akan kiamat pada Pemilu 2014 dalam alam demokrasi yang semakin mencerdaskan umat Islam. Demokrasi yang tengah disemaikan di Indonesia, sekalipun masih compang-camping, tetaplah memberi harapan kepada bangsa ini untuk lebih baik ketimbang bangsa-bangsa yang diperintah secara otoriter dan penuh dengan kekejaman.
Keberhasilan demokrasi yang berkembang di Indonesia tidak lepas dari peran NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia sebagai penyangga masyarakat sipil.

(Zuly Qodir, Sosiolog Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

Si Kumis dan Posisi Dubes di Jerman



Di depan sidang Parlemen Uni Eropa 22/04/2012, Presiden Republik Federasi Jerman (RFJ) Guenter Gauck, menyerukan agar negara-negara anggota, lebih aktif menegakkan hak-hak asasi manusia (HAM). „HAM itu harga mati dan gak bisa ditawar,“ katanya. Maka, salah satu tugas pokok perjuangan penegakan HAM adalah keterlibatan menentang rasisme dan intoleransi lewat pengambilan sikap dan sanksi hukum.

Itulah sebabnya, Gauck ngomong dalam hal bani Muslim. „Saya mengatakan, bahwa kaum Muslim yang menetap di sini itu tergolong keluarga kita,“ ujarnya. „Pidato pelantikan saya bicara soal persamaan dan perbedaan. Seseorang menjadi penghuni di Jerman bukan lantaran kelahiran, melainkan karena sikap setujunya terhadap tempat bermukim dan nilai-nilai yang berlaku di negeri ini.“

Meraup 991 dari 1228 suara sah, Gauck, calon independen, mantan warga Jerman Timur (Jertim), terpilih di Bundesversammlung (Majelis Fderal) Maret 2012 sebagai presiden RFJ ke 11. Perolehannya setara dengan dukungan masyarakat berdasarkan jajak pendapat (67%). Sepanjang sejarah RFJ, belum pernah seorang capres mendapat simpati setinggi itu.

Semasa rezim palu arit, berprofesi pastor agama Nasrani sayap Evangelis-Luther (1967-89). Menjelang pailitnya Jertim, Gauck itu aktivis gerakan oposisi Neues Forum (Forum Baru). Sejak reunifikasi 1990 s/d 2000, Gauck ngebosin otoritas negara penanganan dokumen Stasi (Staatssicherheit alias Badan Intelejen Jertim), yang menggeluti dan menuntaskan masa silam Jertim.

Tak heran, jika akhir Agustus lalu, Gauck menyelenggarakan Buergerfest (pesta warga) di istananya, Schloss Bellevue. Mayoritas 3.800 undangan adalah kelompok-kelompok yang terlibat dalam kemasyarakatan. Termasuk LSM-LSM anti toleransi atau SARA.

Jika masyarakat Jakarta itu penduduk Jerman, pastilah para wakilnya diundang, sebab telah menggugurkan si kumis yang kubunya melakukan kampanye beraroma SARA atas rivalnya.

Begitu melangitnya simpatinya terhadap LSM, mudahlah Gauck nadah bocoran sepak terjangan si kumis selama pencalonan Gubernur. Maka, dusta besarlah bila gak bertabrakan dengan sikap presiden RFJ itu.

Alasan pendubesan si kumis gara-gara „doktor dari Jerman,“ „sudah terbiasa tinggal dan memahami budaya Jerman“ (Ramadhan Pohan, Wakil Ketua Komisi I DPR) itu bisa mendubes (dusta besar), sebab justru akan membikin senjata makan tuan. Soalnya, si kumis jelas tahu, bahwa hal-hal bernuansa SARA itu amat peka di Jerman. Pembiaran kampanye kubunya dapat menggugah impian buruk, si „kumis“ terbeken Jerman maujud jadi si kumis. Hal ini tentu menyudutkan Gauck, seolah ikhlas menampung si „kumis“ dan mengabaikan sikap masyarakat Jakarta, apalagi Jakarta itu mitranya Berlin. Sekaligus mendusta-besarkan World Statesman Awardnya SBY. Sesuai klenikan, pendubesan si kumis akan bikin alienisasi KBRI dengan tuan rumah.

Kalau toh dipaksakan men-Dubes, si kumis, brojolan 10/04/1948, Sabtu Pon, berwuku Galungan, harus bersesajen nasi dang-dangan beras senilai zakat fitrah, lauknya kambing atau ayam hitam mulus dipindhang. Juga ritual kungkum di Ciliwung, sekalian cukur kumis. Maklum, sesuai gaiban watak wukunya, hatinya keras, sering terlena pada keinginan yang mengharu-biru hatinya dan berkeinginan tidak baik buat memiliki barang orang lain. Lantas, sebagai Tikus Aries, bersifat rakus, agresif dan bermuka tebal.

Selain itu, agar Gauck kepelet sama kedusta-besaran pas mesti menerima si kumis, bagusnya Gauck disesajeni kentang uduk, berlauk Currywurst dan Sauerkraut. Pasalnya, Gauck lahir 24/01/1940, Rabu Wage, berwuku Wukir, berwatak nampak indah dari kejauhan, bila didekati berbahaya. Sebagai Naga Aquarius, Gauck itu naga terang dan mahir mengeritik.

Atau sebelum men-Dubes, sebaiknya si kumis, tentu duet dengan si raja dangdut, melakukan serangkaian tur dangdut di Jerman, musik tergolong khas dan iramanya menarik publik Jerman. Jika simpati sudah digaet, barulah men-dubes. Peduli amat sama alienisasiannya KBRI dan Aliansi Masyarakat Peduli KBRI di Jerman. (pipit)

Kisah pekerja Anak dibawah umur asal Borong-terdampar di Jakarta

Seorang anak berusia 13 tahun tertidur pulas di Sofa kantor perwakilan propinsi NTT di Wilayah tebet Timur Dalam, Jakarta selatan, Senin (23/9/13) kemarin. Raut wajahnya Nampak lusuh. Samping sofa terdapat satu tas kecil yang sebagian terlihat sobekan. Rambut kritingnya sebagian menutup wajah yang lugu. “anak ini pagi tadi dibawa seorang polisi. Katanya dari manggarai-Flores NTT” kata seorang staf kantor perwakilan NTT. Saat saya mengajak berbicara badan Yuliana bergetar, Ia masih diselimuti rasa takut.

Nama lengkapnya Yuliana Invinta, lahir di wae Kembek, 30 desember 2000. Anak ke 3 dari 4 bersaudara. Ayahnya bernama Yohanes Galut (Alm) dan Ibu Kristina Mumu. Yulianan berasal dari kampung Wae kembek, Desa Gunung Kec. Kota komba Kabupaten manggarai timur. Yuliana adalah korban pekerjaan anak yang dibawah secara Illegal dari borong-Mangarai Timur sejak akhir mei silam.

Yuliana mengaku berasal dari keluarga petani miskin, Ayahnya sudah lama meningal dunia. Penghasilan Ibunya tak mampu membiayai Yuliana melanjutkan pendidikan ke SMP. Situasi ekonomi keluarga yang sulit ini mendorong Yuliana mencari pekerjaan di kota Borong pada awal Mei 2013 silam. Di Kota Borong Yuliana sempat bekerja di toko Aa.

Setelah seminggu bekerja di Toko Aa, tanpa sengaja Yuliana bertemu dengan seorang laki laki yang mengaku bernama Alosius di sebuah rumah dekat lapangan pertamina borong (Yulianan lupa nama pemilik rumah tersebut). Alosius kemudian merayu Yulianan untuk bekerja di Jakarta dengan iming iming akan di gaji 900.000 pada bulan pertama dan 1,2 juta pada bulan kedua dan seterusnya. Kepada Yuliana, Alosius mengatakan bahwa bekerja di jakarta lebih ringan, mendapat fasilitas tempat tinggal yang nyaman dan bergaji tinggi. Semua biaya transport serta makan minum dalam perjalanan Borong-jakarta akan ditanggung.

Yuliana mengaku ragu dengan penjelasan Alosius. Ia memilih diam dan tidak menanggapi. Pemilik rumahpun ikut membantu Alosius membujuk Yuliana. Rayuan demi rayuan serta iming iming bergaji tinggi terus dilontarkan Alosius pada Yuliana sambil menyodorkan sebuah formulir kepada Yuliana untuk diteken sebagai bentuk persetujuan.  Yuliana akhirnya menandatanggani formulir yang disodorkan Alosius. Ia tidak membaca dan mengaku tidak memahami isi dan maksud formulir itu. Yuliana kembali ke Toko Aa dan kembali bekerja seperti biasa, sekalipun sudah menandatanggani formulir pemberian alosius Yuliana tetap tidak ingin bekerja di jakarta.

Dua hari setelah bertemu dengan Alosius, Yuliana mendengar cerita seorang rekan kerjanya di toko Aa tentang peluang kerja di jakarta dengan gaji tinggi. Menurut Yuliana, rekannya itu diajak oleh seorang lelaki asal Golo Kaca bernama Paulus untuk bekerja di jakarta. Informasi dari paulus yang Ia dengar dari rekannya itu sama persis dengan yang dia dengar dari Alosius.

Bertemu Paulus

Di penghujung Mei Paulus bertemu dengan Yuliana di Toko Aa. Paulus membujuk Yuliana untuk bekerja di Jakarta. Yuliana akhirnya menyetujuai ajakan paulus, setelah Yuliana mendengar janji Paulus untuk memberikan pekerjaan pada Yulianan sebagai pengasuh anak anak dengan Gaji 900.000 hingga 1,2 juta perbulan ditambah jaminan kesehatan. Saat itu Yuliana berpikir dengan gaji 12 perbulan Ia bisa membantu ibunya di rumah dan dapat menabung banyak uang untuk melanjutkan sekolahnya.

Tanpa pamit pada orang tua, Yuliana ikut bersama Paulus. Saat itu Yuliana tidak sendiri, masih ada 5 orang lain yang dibawa oleh Paulus. Semuanya perempuan dan Yulianan mengenal 3 orang diantaranya masing masing Jesi dan Livin masing berumur 15 tahun asal Mbata borong, Alin 16 tahun asal bentengjawa, dan Tina umur 15 tahun asal bentengjawa.

Ke 5 anak perempuan ini oleh paulus dibawah ke Anam kecamatan Ruteng. Yuliana bersama 4 yang lain menginap 2 malam di rumah teman paulus yang bernama Yoseph. Paulus kemudian kembali ke Borong sementara 5 orang perempuan termasuk Yuliana selanjut diurus oleh Yoseph menuju labuan bajo.

Setelah bermalam 2 hari di rumahnya di kampung Anam Yoseph lalu membawa 5 orang perempuan ini ke labuan bajo dengan menyewa sebuah mobil travel. Di lembor rombongan Yoseph bertemu dengan rombongan Alosius dan seorang lagi bernama Datus di sebuah warung makan. Yuliana kembali bertemu dengan Alosius untuk kedua kalinya. Alosius protes pada sikap Yuliana yang mengikuti Paulus sementara sebelumnya sudah menandatanggani formulir kesepakatan kepada Alosius. Yuliana meminta Alosius menghubungi Paulus. Maka terjadilah perang mulut antara Alosius dan paulus memperebutkan Yuliana.

Ditengah aduh mulut Alosius dan paulus tiba tiba sekelompok polisi dari polsek Lembor datang menghapiri warung makan lalu menangkap Alosius, Yosep, Datus dan 14 orang perempuan, 5 orang diantara yang dibawah Yoseph hasil pencarian paulus dan 9 orang perempuan lain hasil pencarian Alosius. 14 perempuan ini kebanyakan dari manggarai timur dan Bajawa.

Yuliana menyaksikan saat ditangkap kedua tangan Alosius diborgol. Setelah diperiksa selama berjam jam Yoseph, Datus dan 14 orang perempuan dipulangkan. 2 orang perempuan yang dibawah Alosius berhasil melarikan diri sementara 12 orang lain berhasil ditahan oleh Yoseph. Yuliana sempat berencana menuju ruteng dan mencoba mencari pekerjaan disana namun rencana itu dihalangi oleh Yoseph.  Yoseph mengancam yang berani pulang harus mengembalikan semua biaya yang sudah dikeluarkan. Yuliana dan ke 11 orang lain tak berani kabur takut dengan ancaman Yoseph. Mereka akhirnya mengikuti Yoseph kembali ke kampung anam.

Setelah 2 hari di kampung anam, Alosius kemudian datang menjemput dan membawa 12 orang perempuan ini ke labuan bajo. Sekitar jam 3 subuh Alosius dan Yoseph membawa 12 orang perempuan ini. Hal ini dilakukan untuk menghindari polisi. Setiba dilabuan bajo 12 orang ini langsung dihantar ke kapal ferry.  Yoseph kemudian kembali ke amam sementara Alosius terus menemani 12 orang perempuan menuju jakarta setelah 2 malam sempat menginap di sape. Perjalanan hingga jakarta memakan waktu hingga satu minggu lebih.  Alosius selalu mencari tempat yang nyaman untuk menyembunyikan Yuliana dan teman temannya dari pantauan polisi.

Di Serahkan pada Bos Yulius

Di jakarta Alosius menyerahkan 12 orang perempuan ini ke seorang agen yang bernama Yulius. Ditempat ini barang berharga seperti HP, uang, termasuk sim card milik Yuliana disita oleh Ibu susan seorang staff Yulius. Padahal di dalam sim card itu terdapat banyak nomor keluarganya di kampung.

Yuliana tidak mengatahui alamat tempat penampunga milik Yulius ini. Mereka tidak diijinkan keluar rumah. Selama dua hari mereka dilatih mengurus anak kecil, mengunakan mesin cuci, cara strika dan pengunaan anak elekronik lainnya. Setelah 2 hari berada di tempat Yulius masing masing 12 orang yang dibawah Alosius di sebar pada majikan berbeda. Yuliana mendapat majikan yang mempekerjakannya sebagai pembantu rumah tangga dengan upah 700 ribu perbulan. Lagi lagi Yuliana tidak mengetahui alamat rumah majikannya itu. Ditempat ini menurut Yuliana majikannya bersikpa baik namun hanya betah bekerja selama 2 minggu, Ia selalu menangis ingat orang tuanya di borong.

Melihat Yuliana selalu menangis majikannya memulangkan Yuliana pada Yulius. Yuliuspun marah besar. Setelah 2 minggu berselang Yulius mengantar Yuliana pada sebuah pabrik permen. Yuliana tak diberitahu alamat pabrik itu. Ditempat ini Yuliana bekerja siang malam tanpa istrahat. Bekerja mulai jam 5 pagi hingga jam 11.30 malam dengan jatah makan 2 kali yaitu pada pukul 9 pagi dan pukul 6 sore. Kepada Yuliana, Yulius mengatakan upah bekerja di pabrik permen itu sebesar 700 ribu perbulan.

Yuliana mengaku sangat kecewa, apa yang dialaminya tidak seperti yang dikatakan Paulus dan Alosius saat bertemu di borong. Bahwa gajinya 1,2 juta perbulan.  Setelah bekerja 1,5 bulan Yuliana jatuh sakit. Badannya terasa nyeri terutama dibangian pingung. Selama seminggu tak bisa bangun dari tempat tidur. Pihak pabrik hanya memberinya obat tablet namun Yuliana tak kunjung sembuh. Setelah 2 minggu tak kunjung sembuhpihak pabrik mengembalikan Yuliana ke agent. Yulius lagi lagi memarahi Yuliana.

Belum pulih dari sakit yuliana dibawah oleh Yulius ke rumah dokter sisilia. Bukan untuk berobat tapi dipekerjakan sebagai pengasuh anak. Di rumah dokter Sisilia Yuliana tidak diperlakukan baik. Setiap hari dimarahi, dibentak dan dicaci maki. Tidak hanya doketr sisilia, kedua orang tua sisilia juga ikut membentak Yuliana. Hanya suami dokter Sisilia yang bersikap baik pada Yuliana, namun suaminya juga ikut dibentak dan dimarahi jika membela Yuliana.

Tak kuat menahan semua caci maki dari doketr sisilia dan kedua orang tuanya, Pada tangga 21 sept pukul 02.00 subuh, Yuliana benari kabur. Ia membungkus semua barangnya, membuang keluar pagar lalu memanjat tembok tinggi rumah dokter sisilia. Aksi kabur ini dipergoki oleh satpam perumahan. Kepada satpam Yuliana menjelaskan alasan dirinya memilih kabur dari rumah majikan. Satpam itupun menyembunyikan Yuliana di ruang satpam hingga pagi.

Di pagi hari satpam kemudian mencari bajai dan meminta sopir bajai mengantarkan Yuliana ke kantor polisi terdekat. Yuliana sempat kuatir bajai yang ditumpanginya tak kunjung sampai ke kantor polisi. Namun kekuatiran itu hilang setalah sopir bajai meminta Yuliana turun dan menunjukan kantor polisi. Yuliana kemudian melaporkan kronologis pristiwa yang dialaminya sejak dari borong hingga jakarta.

Kepada polisi Yuliana tidak bisa menjelaskan alamat Yulius, alamat majikan yang perna mempekerjakannya kepada polisi hingga Ia harus bermalam di kantor polisi. Hingga pada tanggal   23 september 2013 pagi seorang polisi mengantar Yuliana ke kantor Perwakilan propinsi NTT di daerah tebet Timur, jakarta selatan untuk diurus pemulangannya ke manggarai timur.



Selama bekerja pada 3 majikan Yulina tak perna menerima upah. Yulius mengambil semua upahnya untuk mengembalikan biaya yang sudah dikeluarkan sejak Ia berangkat dari dari borong.  Ia berharap oarng orang yang membawanya ke Jakarta dapat segerah ditangkap dan dihukum. (che-)

Langgar UUD 1945, Tunda Pemilihan Hakim Agung di Komisi III


Uji kelayakan dan kepatutan calon hakim agung oleh Dewan Perwakilan Rakyat diduga melanggar konstitusi. Komisi III DPR perlu menunda pemilihan hakim agung yang menurut rencana digelar hari Senin (23/9) ini.
Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya, Martin Hutabarat, Minggu (22/9), mengingatkan, dalam Pasal 24A Ayat (3) UUD 1945 disebutkan, calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial (KY) kepada DPR untuk mendapat persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden.
Melihat ketentuan itu, Martin mengusulkan perubahan mekanisme pemilihan hakim agung. Seleksi dilakukan lembaga independen dan DPR hanya sebatas setuju atau menolak usulan yang diajukan lembaga tersebut.
Sementara itu, peneliti Indonesian Legal Roundtable, Erwin Natosmal Oemar, meminta Komisi III DPR menunda seleksi hakim agung hingga ada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait mekanisme pemilihan hakim agung. MK diperkirakan segera mengambil putusan perkara ini karena persidangan sudah selesai sejak Mei 2013.
Penundaan pemilihan hakim agung juga dibutuhkan karena ada pertemuan peserta seleksi hakim agung dengan anggota Komisi III di toilet pada pekan lalu. Pada tahun 2012, juga ada anggota Komisi III DPR yang diduga berusaha menyuap komisioner KY.
Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia Sebastian Salang mengatakan, dugaan upaya suap itu sudah merusak atau menghancurkan citra lembaga peradilan dan institusi DPR.
”Timbul persepsi publik bahwa hakim agung di Mahkamah Agung (MA) sebagai benteng terakhir pencari keadilan ternyata dipilih bukan karena kompetensi, melainkan dari praktik jual-beli,” kata Sebastian.
Pada saat yang sama, kata Sebastian, tak mengagetkan jika sejumlah survei menunjukkan korupsi banyak terjadi di DPR.
KY ke DPR
Wakil Ketua Komisi III dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Almuzzammil Yusuf menuturkan, Senin sore ini KY akan hadir ke DPR untuk menjelaskan dugaan upaya suap yang dilakukan anggota DPR dan lobi antara calon hakim agung dan anggota DPR. Penjelasan KY akan dijadikan pertimbangan oleh fraksi- fraksi di Komisi III dalam memilih calon hakim agung pada Senin malam.
Harry Witjaksono dari Fraksi Partai Demokrat berpendapat, mekanisme pemilihan calon hakim agung sudah baik. Saat ini, yang dibutuhkan adalah tambahan pengawasan dari masyarakat agar tidak terjadi penyimpangan dalam pemilihan.
Anggota Komisi III dari Fraksi PDI-P, Eva Kusuma Sundari, berpendapat, tidak ada jaminan lembaga peradilan akan lebih baik jika DPR tak dilibatkan dalam seleksi hakim agung.
Menurut Eva, bukan DPR yang menyebabkan MA rusak lantaran ada hakim agung yang tidak akuntabel. Uji kelayakan dan kepatutan serta pemilihan calon hakim agung di DPR adalah proses terakhir yang pasti terkait dengan proses sebelumnya. Calon hakim agung yang diuji oleh DPR adalah mereka yang dinyatakan lolos seleksi oleh KY.
Wakil Ketua Komisi III dari Fraksi Partai Amanat Nasional Tjatur Sapto Edy mengatakan, fraksinya akan memutuskan calon hakim agung yang dipilih pada Senin siang.
Sikap serupa diambil Fraksi PDI-P, Fraksi Partai Demokrat, dan Fraksi Partai Gerindra.

Pendidikan Anak-anak TKI

Di tengah optimisme Indonesia menghadapi fenomena bonus demografi sebagai titik tolak lepas landas menuju negara maju, kita masih menyisakan 45.000 lebih anak-anak TKI pekerja kebun sawit di Sabah dan Sarawak yang tak tersentuh layanan pendidikan.
Di dalam negeri, hiruk-pikuk pelaksanaan Kurikulum 2013 masih saja terdengar. Belum lagi rasa bangga yang dicuatkan pemerintah terkait penghargaan UNESCO atas kesuksesan Indonesia dalam mengurusi buta aksara serta klaim Mendikbud atas menurunnya tingkat buta aksara. Di tengah atmosfer optimisme semacam itu, di seberang tapal batas negeri ini ribuan anak Indonesia dalam kondisi buta huruf dan buta tentang Indonesia.

Peran Negara Makin Tak Terasa


Tantangan Kepolisian Negara RI akan semakin berat. Saat ini, warga kian tidak puas dengan kinerja pemerintah dalam memberikan rasa aman. Di sisi lain, polisi yang seharusnya menjadi pengayom warga, belakangan ini, juga diliputi suasana teror. Sementara itu, suhu politik menjelang pemilu akan semakin eskalatif.
Kian tingginya ketidakpuasan warga atas kinerja pemerintah dalam memberi rasa aman itu terlihat pada jajak pendapat Kompas yang dilakukan secara periodik setiap tiga bulan sejak Januari 2005 hingga Juli 2013.

Ayo, Ke Pulau Sabolon


Datang ke perairan Flores Barat di sekitar Labuan Bajo rasanya kurang lengkap bila tidak menikmati kemolekan pulau mungil ini. Pantainya putih bersih, gulungan ombaknya begitu atraktif. Saya sangat yakin jika anda berada ditempat ini tentu saja akan memilh sedikit lebih lama menikmati kecantkan pulau Sabolon

Di daerah Labuan Bajo, ada banyak sekali pulau-pulau kecil yang sebagian besar belum ditempati, dengan pasir putih yang indah, di dalamnya ada terumbu karang yang cantik yang menjadi perhatian wisatawan dunia. Salah satu yang terbaik adalah Pulau Sabolon.
Dari sekian banyak yang sudah dijadikan resort memang masih lebih banyak yang tetap alami tidak berpenghuni bahkan terjamah tangan wisatawan. Akan tetapi walau tidak berpenghuni pulau-pulau tersebut juga tetap bisa dikunjungi untuk sekedar singgah dan menikmati keindahan di sana seakan memiliki pulau pribadi sejenak. Salah satu pulau yang populer di telinga wisatawan sebagai destinasi wajib untuk disinggahi adalah Pulau Sabolon.

Di Manggarai Barat ada Pulau Kalong


Pulau Kalong merupakan salah satu pulau kecil di Taman Nasional Komodo (TNK), Kabupaten Manggarai Barat-Nusa Tengara Timur. Pulau ini terletak di antara pulau Rinca dan pulau Papagarang. Masyarakat menyebutnya pulau Kalong lantaran di pulau yang diintari oleh hutan bakau ini dihuni jutaan burung kalong. Pulau kalong dapat ditempuh sekitar 35 menit dengan speedboath darikota Labuan Bajo dan merupakan salah satu obyek wisata terkenal yang sangat diminati oleh wisatawan mancanegara.
Pulau yang memiliki luas tidak lebih dari 5 hektar itu, saban hari ramai dikunjungi oleh para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Mereka datang untuk melihat jutaan burung kalong yang bergelantungan di atas pepohonan bakau. Sebuah pemandangan yang sangat memukau. Para wisatawan mengaku senang berada di pulau itu terutama pada hari menjelang malam.

Sejenak Menikmati Kecantikan Pulau Kanawa

Kanawa, pulau kecil yang begitu menawan dari Nusa Tenggara Timur. Berhias alam yang tenang, serta pantai, dan bawah lautnya yang indah memancarkan kecantikannya. Pulau ini terlihat bak mutiara yang berada di tengah birunya laut.
Pulau Kanawa merupakan pulau kecil yang terletak sekitar 10 km dari Labuan Bajo yang menjadi pintu gerbang Pulau Komodo. BIla ingin berkunjung ke Pulau Komodo, kita pasti melewati pulau ini. Pulau Kanawa sangat cocok untuk tempat bersantai, berjemur ataupun bersnorkeling dan diving.
Alam bawah lautnya sangatlah menawan. Kita tak perlu jauh-jauh mencari tempat snorkeling untuk dapat melihat terumbu karang, coral, school of fish, kura-kura, bintang laut, dan berbagai jenis anemon laut lainnya. Hanya berjarak sekitar 10 meter dari bibir pantai kita sudah dapat menemukan semua keindahan itu. Di sisi kanan pulau ini juga masih terdapat sisa ganggang merah yang membuat di Pulau Kanawa ini sekilas terlihat berwarna pink. Jadi, tak hanya di Bahama, Indonesia juga memiliki pantai pink.

Anu Beta Tubat: Pelajaran Dari Maybrat

Anu Beta
Sejak pendidikan menjadi komoditi yang diperdagangkan dan lembaga pendidikan beralih fungsi dari lembaga sosial menjadi lembaga komersial, pendidikan – apalagi pendidikan bermutu – semakin jauh dari jangkauan kelompok miskin. Kian mahalnya biaya pendidikan membuat keluarga miskin seringkali harus menyerah betapapun anak-anak mereka berprestasi. Bahkan sekadar  bermimpi dapat menyekolahkan anak hanya setingkat SMA saja mereka tak berani lagi. Anak-anak pun mereka paksa untuk  menanggalkan mimpi sejak dini.
Ada anak lulusan SMP yang berprestasi – bahkan pernah mengikuti olimpiade sains di daerahnya – terpaksa menjadi TKI karena orang tua tak mampu lagi membiayai pendidikannya. Ada lagi anak dari keluarga miskin yang nekat mengikuti tes dan diterima di perguruan tinggi negeri terpaksa mengundurkan diri karena bapaknya yang hanya buruh tani tak mampu membiayai. Rasa frustasi mendorongnya lari ke luar negeri menjadi TKI.
Rupanya di negeri ini tengah berlangsung proses pemiskinan yang jauh lebih buruk dari yang kita bayangkan. Dulu meskipun miskin, orang tua dan anak-anak dari keluarga miskin masih berani bermimpi. Sebab dulu masih terbuka peluang bagi anak-anak keluarga miskin untuk mewujudkan mimpinya. Tidak heran kalau dulu banyak anak dari keluarga miskin berhasil meraih pendidikan tinggi. Tapi sekarang sekadar bermimpi bisa menyekolahkan anak sampai SMA saja mereka sudah tidak berani. Realitas di sekeliling mereka mengajarkan, anak-anak miskin yang nekat menerobos masuk ke jenjang SMA berakhir dengan putus sekolah.
Fenomena tidak biasa terkait kemiskinan dan akses atas pendidikan kami temukan di  pedalaman Papua, tepatnya di Kabupaten Maybrat. Di kalangan masyarakat Papua,  Maybrat dikenal sebagai daerah yang banyak warganya jadi sarjana. Bahkan tidak sedikit pejabat tinggi di kabupaten lain di Papua berasal dari Maybrat. Padahal kondisi warga di Kabupaten Maybrat ini sama miskinnya dengan warga di Kabupaten lain. Meskipun miskin, semangat masyarakat Maybrat untuk memperoleh pendidikan sangatlah tinggi. Bahkan pendidikan mereka tempatkan sebagai dasar sejak sebelum ada pemerintahan di Maybrat.
Apa yang membedakan Maybrat dengan masyarakat lain di Papua? Mengapa banyak sarjana dihasilkan dari daerah ini? Apa yang membuat masyarakat Maybrat punya animo tinggi terhadap pendidikan? Pertanyaan ini muncul ketika data yang kami kumpulkan dari keluarga miskin di kampung-kampung menunjukkan, banyak keluarga miskin di Maybrat menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke jenjang perguruan tinggi. Tidak sedikit anak dari keluarga miskin di daerah ini mampu menyelesaikan pendidikan tinggi. Bahkan tidak sedikit pula yang mengirimkan anak-anak mereka menempuh pendidikan tinggi di Jawa. Jawaban atas pertanyaan itu kami temukan dalam diskusi bersama komunitas-komunitas kampung di Kabupaten Maybrat. Meski berbeda kadarnya, ada semacam spirit gotong royong yang berlaku umum dan dipelihara oleh masyarakat kampung di Maybrat.  Spirit gotong royong ini dalam bahasa setempat disebut “anu beta tubat”, yang artinya bersama kami mengangkat.
Spirit anu beta tubat itulah yang rupanya menyatukan masyarakat Maybrat untuk menempatkan pendidikan sebagai prioritas. Ibarat lidi yang bila disatukan sulit untuk dipatahkan, demikian pula dengan kekuatan spirit anu beta tubat bagi keluarga-keluarga miskin di Maybrat. Betapapun miskin, mereka tidak menyerah dan bahkan gigih dalam memperjuangkan pendidikan anak-anak mereka sampai ke tingkat tinggi. Berbagai hambatan dalam mengakses pendidikan mereka atasi bersama.
Spirit anu beta tubat ini semakin menguat setelah masyarakat sendiri memetik dan merasakan buahnya. Setelah melihat perubahan positif pada karakter anak-anak mereka yang mendapatkan pendidikan, para orang tua tidak ragu lagi mengirimkan anaknya ke sekolah. Terlebih setelah mereka melihat, anak-anak yang berpendidikan itu  mudah memperoleh pekerjaan atau mendapatkan posisi di pemerintahan, masyarakat  berlomba untuk menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke tingkat tinggi. Mereka bergotong royong membiayai pendidikan anak dan berjibaku bersama mengangkat anak-anak mereka agar dapat mengakses pendidikan yang lebih baik. Padahal dulu, untuk mengirimkan anak ke sekolah saja para orang tua harus didorong-dorong dan dipaksa-paksa. Kini, pendidikan mereka tempatkan sebagai prioritas dan spirit anu beta tubat menjadi kekuatan untuk mengatasi berbagai hambatan.
Spirit gotong royong untuk mengakses pendidikan itu bisa ditemukan di kampung-kampung dan di berbagai tingkatan pendidikan. Pada tingkatan sekolah dasar, spirit itu mewujud dalam upaya masyarakat untuk menjaga keberlangsungan pendidikan dasar di kampung mereka. Untuk membuat guru betah mengajar di kampung, misalnya, mereka bergotong royong membuatkan kebun untuk guru, membangun tempat tinggal guru, dan menyokong bahan makanan bagi guru yang baru ditempatkan di kampung mereka. Agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar, masyarakat juga bergotong yorong untuk membangun atau memperbaiki bangunan sekolah, membantu pengadaan mebel untuk sekolah, membayar gaji guru honorer, membeli buku-buku pelajaran untuk pegangan siswa, membantu membiayai pelaksanaan ujian dan lainnya.
Untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi, baik SMP atau SMA, kebanyakan anak kampung di daerah Maybrat harus keluar dari kampung mereka dan sekolah di kota kecamatan, di kecamatan lain, di kota kabupaten atau di kota provinsi. Mereka tinggal di asrama atau menumpang pada keluarga-keluarga di kota. Untuk bisa melanjutkan ke SMP atau SMA, orang tua harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Baru tingkat SMP saja orang tua sudah merasakan sulitnya membiayai pendidikan anak. Setiap bulan mereka harus mengirimkan uang tunai. Padahal penghasilan mereka sebagai petani tidaklah menentu.
Untuk mendukung para keluarga yang anak-anaknya menempuh pendidikan di tingkat SMP dan SMA, masyarakat kampung melakukan berbagai upaya. Salah satunya adalah membangun asrama atau rumah tinggal bersama bagi anak-anak yang bersekolah di kota. Setiap kampung bergotong royong membangun rumah tinggal atau asrama sendiri dan bersama pula membiayainya. Salah satu atau beberapa warga ditunjuk untuk mengurus asrama dan mengawasi anak-anak dalam belajar. Biasanya yang mendapatkan tanggung jawab mengurus asrama atau tempat tinggal bersama ini adalah warga yang tinggal di kota atau yang tinggal tak jauh dari sekolah. Sistem “asrama” atau “rumah tinggal bersama” ini sangat membantu para orang tua yang tidak memiliki keluarga di kota.
Pada tingkat perguruan tinggi, anu beta tubat diwujudkan dalam bentuk dukungan untuk meringankan beban biaya pendidikan yang ditanggung orang tua. Bagi orang tua yang anaknya masih bersekolah di SMP dan SMA, biaya pendidikan kebanyakan mereka sendiri  yang menanggungnya. Sementara biaya hidup anak selama belajar di kota, dibantu oleh masyarakat kampung atau dibantu oleh keluarga yang tinggal di kota. Namun ketika anak-anak mereka melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, orang tua mendapatkan dukungan biaya pendidikan dari masyarakat.
Bentuk dukungan yang diberikan masyarakat kampung bagi keluarga yang anaknya menempuh pendidikan tinggi bermacam-macam. Ada masyarakat kampung yang bergotong royong menanggung biaya pendaftaran, ada pula yang menanggung biaya pembelian sarana prasarana, seperti komputer, membantu membayar biaya skripsi, biaya wisuda, dan lainnya. Dukungan paling besar kebanyakan datang dari keluarga besar para orang tua masing-masing, baik dari pihak suami maupun istri. Keluarga besar bergotong royong untuk menanggung sebagian (besar) biaya pendidikan anak yang belajar di perguruan tinggi.
Spirit gotong royong itulah yang pada akhirnya memberi peluang bagi anak-anak  keluarga miskin di Maybrat untuk mengakses pendidikan tinggi. Anak-anak yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi, akan menjadi kekuatan dan modal bagi masyarakat kampung dalam menjalankan dan memperkuat spirit anu beta tubat. Apalagi kalau anak-anak itu mendapatkan pekerjaan yang baik atau posisi di pemerintahan. Mereka punya tanggung jawab lebih dalam mengangkat anak-anak yang lain. Kalau tanggung jawab itu tidak mereka jalankan, masyarakat akan menempatkan mereka dalam barisan orang-orang yang tidak berguna.
Meskipun kami baru sekilas mengenal masyarakat Maybrat, namun perjumpaan yang sekilas itu sungguh memberikan banyak pelajaran bagi kami yang tengah mendalami pendidikan dari sudut pandang hak asasi. Spirit anu beta tubat memberi inspirasi tentang bagaimana kemiskinan dan lemahnya akses kaum miskin atas pendidikan dapat diatasi. Di saat negara tidak lagi menempatkan pendidikan sebagai hak asasi dan karenanya pemerintah kurang serius dalam menjalankan komitmen untuk mewujudkan pendidikan bagi semua, masyarakat dapat bahu membahu mengembalikan pendidikan sebagai prioritas. Di saat negara kehilangan daya dalam memenuhi hak warga atas pendidikan, masyarakat dapat berjibaku untuk secara bersama mencerdaskan kehidupan bangsa. Kehidupan bangsa yang cerdas tidak akan dapat dicapai selama kaum miskin masih sulit mengakses pendidikan.
Kami membayangkan akan banyaknya kemajuan yang bisa kita capai sebagai bangsa seandainya satu warga yang mampu secara ekonomi berkomitmen menyekolahkan satu anak keluarga miskin. Kami yakin, sumberdaya warga yang terbatas apabila disatukan akan menjadi kekuatan yang dapat mengembalikan bangsa ini sebagai bangsa yang punya masa depan. Masyarakat Maybrat di Papua Barat telah membuktikannya. **

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More