”Kompas” Datang, Air Mengucur…

Kulit wajah Yohanes Magor sudah mengeriput seiring usianya yang kini 80-an tahun. Di kampungnya, ia adalah tetua paling lama mengalami deraan penderitaan panjang akibat kesulitan air bersih. Namun, ia pun beruntung karena masih sempat menyaksikan berakhirnya penderitaan itu, setidaknya sejak April lalu.
Yohanes Magor adalah warga Kampung Tuwa—satu dari empat anak kampung—di Desa Goloronggot, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Perkampungan Tuwa sendiri tumbuh di tepi jalan beraspal mulus, bagian dari Lintas Flores. Jaraknya sekitar 60 kilometer arah timur dari Labuan Bajo, kota Kabupaten Manggarai Barat. Meski demikian, kampung yang kini berpenduduk 177 keluarga atau sekitar 700 jiwa itu sebelumnya tak pernah lekang dari krisis air bersih.
Pada musim hujan, sumber air bersih warga memang agak dekat, sekitar 1 km sebelah timur ujung kampung, di Waerubeng. Airnya hanya mengalir selama hujan turun. Kalau sampai sebulan saja hujan berlalu, yang tersisa hanya genangan di beberapa titik alurnya. Ketika kondisi seperti itu, Waerubeng praktis tidak lagi diandalkan untuk kebutuhan memasak dan minum bahkan mandi dan cuci, karena air genangannya tak lagi bening, tetapi berubah keruh.
Sebaliknya, memasuki kemarau, upaya memenuhi kebutuhan air warganya beralih ke Sungai Waelongge. Posisinya sekitar 2-3 km dari Tuwa. Perjalanan pulang pergi membutuhkan waktu 3-4 jam karena harus menyusuri jalan tikus, menerobos semak, yang sebagian melalui tanjakan tajam. Dengan demikian, upaya mendapatkan air telah menyita sebagian waktu kerja yang seharusnya dimanfaatkan untuk menggarap ladang, mengolah sawah, beternak, atau kegiatan produktif lainnya.
Kini, krisis air bersih yang sejak lama mendera warga Tuwa telah menjadi kisah masa lalu. Mereka telah menikmati air bersih setidaknya sejak April lalu. Penderitaan klasik itu akhirnya berujung juga menyusul rampungnya pembangunan sarana air bersih bantuan dana pembaca Kompas melalui Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) dan bantuan Bank Mandiri.
Tombo dia keta e..ite, senang kami gacai Kompas po manga waeNgaji kaut’n ami sangge’n ro’eng Tuwa latang gauk di’a de Kompas dite,” begitu ungkapan spontanitas tetua Yohanes Magor dalam percakapan dengan tim DKK pimpinan Muhammad Nasir di Tuwa, pertengahan Agustus lalu. Ungkapan dalam bahasa setempat itu terjemahan bebasnya lebih kurang demikian. ”Terima kasih secara tulus dan mendalam, kami sudah senang, Kompas datang baru air mengucur. Kami segenap warga Tuwa hanya bisa membalasnya dengan doa atas bantuan kemanusiaan Kompas.”
Sejatinya, ungkapan yang disampaikan ayah empat anak dan 12 cucu itu tidak hanya mewakili kelegaan warga Tuwa. Tentu saja sekaligus mewakili kelegaan Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dulla. Alasan utamanya, Tuwa termasuk kampung dengan kesulitan air bersih paling parah di Manggarai Barat. Karena kondisi itulah hingga sang bupati—sebagaimana diakuinya ketika di Tuwa, September 2011—sampai enggan mengunjungi warga kampung itu sejak ia menjadi wakil bupati hingga berlanjut menjadi bupati sejak Agustus 2010.
Apa pasal? Agustinus Dulla mengakui, setidaknya ada dua alasan yang membuat dirinya enggan mengunjungi Goloronggot, terutama Tuwa. Pertama, dirinya tidak sampai hati menyaksikan warganya itu terus berkutat dalam derita kesulitan air bersih. Kedua, sudah dua atau tiga kali pemerintah berupaya mengatasi kesulitan air bersih bagi warga Tuwa, tetapi semuanya tak kunjung membuahkan hasil.
”Keengganan saya mengunjungi Tuwa bukan karena tidak peduli terhadap penderitaan warga. Yang terjadi justru sebaliknya. Saya tidak sampai hati menyaksikan mereka terus menjerit kesulitan air bersih. Tuwa memang sejak lama termasuk kampung dengan kesulitan air bersih paling parah di Manggarai Barat,” tuturnya.
Kini, sang bupati tentu saja menjadi enteng berkunjung ke Tuwa setelah DKK bersama mitranya, Bank Mandiri, berhasil mengatasi krisis air bersih.
Empat titik
Setelah melalui proses penelitian secara detail dan mendalam, DKK memutuskan bantuan sarana air bersih bagi masyarakat pedesaan di Flores. Didukung Bank Mandiri, bantuan DKK dengan total Rp 7,5 miliar itu tersalur melalui empat titik. Selain bagi warga Tuwa, juga bagi Dusun Lada di Desa Pong Ruan, Kabupaten Manggarai Timur; Desa Ria di Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada; serta Desa Teka Iku dan sekitarnya di Kabupaten Sikka.
Khusus di Tuwa, bangunan mengalirkan air dari sumur tandem di Waerubeng. Air di tampungan dialirkan hingga bak elevasi di bagian hilirnya. Menggunakan pompa hirdam berteknologi ”air tolak air”, air selanjutnya dilontarkan hingga kampung melalui jaringan pipa. Pengaliran air dengan teknologi serupa digunakan di Desa Ria (Ngada), yang mengalirkan dan melontarkan air dari Sungai Alolain di sisi selatan kampung.
Sementara itu, sarana air bersih bagi warga Dusun Lada (Manggarai Timur) bersumber dari hasil pengeboran pada dinding tebing di hulu kampung. Selanjutnya, air dialirkan secara gravitasi melalui jaringan pipa hingga perkampungan.
Masih ada satu titik lainnya, yakni bantuan sarana air bersih bagi warga Desa Teka Iku dan sekitarnya di Kecamatan Kangae (Sikka). Paket bantuan bagi warga terakhir ini tersalur berupa dua unit mobil tangki karena tak ada sumber air di sekitarnya.
Pembangunan sarana air bersih bagi warga pedesaan di Flores tersebut ditandai dengan peletakan batu pertamanya pada akhir Mei 2012. Khusus di tiga titik pertama, pembangunannya menunggu waktu serah terima yang sedianya akan berlangsung akhir September ini.
Sementara bantuan berupa dua mobil tangki air bagi warga Teka Iku dan sekitarnya di Sikka secara resmi sudah diserahkan oleh Wakil Pemimpin Umum Kompas St Sularto kepada Direktur CV Pembangunan St Yosef Keuskupan Maumere Rm Arkadius Dhosando Pr di Maumere, Minggu (25/11/2012), disaksikan Uskup Maumare Mgr Gerulfus Kherubim Pareira.
Seperti di Tuwa, debit air bagi warga di Dusun Lada sedikit menyusut memasuki puncak kemarau sejak pekan kedua Agustus lalu. Namun, kondisi itu tak sedikit pun menyurutkan rasa terima kasih warga atas kehadiran sarana air bersih bagi mereka.
”Kami sangat berterima kasih karena Kompas sudah membebaskan kami dari penderitaan kesulitan air minum sejak turun-temurun. Kalau debit air terus berkurang, tidak masalah. Yang terpenting tetap cukup untuk kebutuhan minum dan memasak di rumah. Sedangkan untuk mandi dan cuci, bisa kembali ke sungai,” kata Sius Mbaur (52), salah satu tetua di Dusun Lada, Desa Pong Ruan.
Tokoh masyarakat Desa Ria (Ngada), Paulus Pantar (66), menyebutkan, sarana air bersih yang kini dinikmati masyarakat setempat adalah wujud bantuan dari sebuah lembaga beserta orangnya yang sungguh berhati lurus. ”Perkampungan kami lokasinya sangat jauh dan terpencil, apalagi dari Jakarta. Kompas melalui tim DKK justru telah menunjukkan kepeduliannya hingga warga kami akhirnya menimba air melalui keran di sekitar rumah. Ini rahmat, yang sejak lama tidak terbayangkan,” tutur pensiunan PNS guru sekolah dasar di desa itu.
Yohanes Magor, Sius Mbaur, atau Paulus Pantar sama-sama mengakui, warga di setiap kampung mereka sebenarnya sudah sejak lama berupaya mengatasi kesulitan air bersih. Namun, usaha demi usaha selalu gagal, dan baru membuahkan hasil setelah DKK dan Bank Mandiri mengulurkan tangannya. (FRANS SARONG)

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More