Sembilan hari silam, wilayah Filipina bagian utara disapu topan Haiyan yang bergerak dengan kecepatan paling kurang 250 kilometer per jam. Topan itu menyapu kota pelabuhan Tacloban, misalnya, dengan tsunami dengan tinggi gelombang 6 meter. Bisa kita bayangkan bagaimana akibat sapuan topan yang dahsyat itu.
Sapuan topan Haiyan ini tercatat sebagai bencana alam terburuk dalam sejarah Filipina belakangan ini. Tahun lalu, Filipina, sebuah negeri yang terdiri atas 7.107 pulau dan terletak di ring of fire , cincin api, disapu topan Bophan yang menewaskan paling kurang 2.415 orang.
Kita bisa merasakan betapa pilu rasa hati tidak hanya pemerintah, tetapi juga rakyat Filipina akibat bencana itu. Ribuan orang meninggal. Rumah-rumah hancur. Infrastruktur tidak hanya rusak, tetapi juga hancur. Masa depan kelam. Hal yang sama pernah kita alami pada bulan Desember 2004 ketika tsunami menyapu Aceh.
Kita masih ingat, pada waktu itu, dalam waktu singkat negara-negara sahabat dan organisasi-organisasi kemanusiaan dunia segera mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang disandang Indonesia, rakyat Aceh. Rasa kemanusiaan telah menggerakkan bangsa- bangsa di dunia untuk membantu dengan menyingkirkan atau membuang jauh-jauh perbedaan politik dan ideologi. Sebab, nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas bangsa-bangsa, lebih tinggi nilainya dibandingkan nilai-nilai politik maupun ideologi.
Bangsa-bangsa di dunia menyadari bahwa tidak mungkin sebuah bangsa tidak memedulikan negara atau bangsa lain. Dunia ini sudah demikian satu. Dunia ini, menurut istilah Marshal McLuhan, sudah menjadi semacam global village , yang terhubungkan satu dengan yang lain, yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.
Lagi pula, negara mana yang menginginkan menjadi korban bencana? Negara mana yang menginginkan disapu topan, dijungkirbalikkan gempa bumi, ditenggelamkan tsunami, dikubur letusan gunung? Tidak ada. Setiap negara, sekalipun digdaya, adikuasa, tetap tidak mampu menghadapi gejolak alam.
Inilah kiranya yang antara lain telah menggerakkan banyak negara dan bangsa serta organisasi kemanusiaan internasional, termasuk Indonesia dan PMI, untuk mengulurkan bantuan kepada Filipina yang sedang didera bencana. Bencana alam—meski tidak kita kehendaki—bisa menjadi jalan untuk membangun komunitas dunia yang dilandaskan pada kepercayaan, dukungan dan rasa hormat, serta bela rasa yang tulus, satu terhadap yang lain. Pendek kata, bencana telah mengingatkan bangsa-bangsa untuk semakin mewujudkan globalisasi dalam solidaritas.













0 komentar:
Posting Komentar